Kitab yang menjamin kepastiannya hanya Al-Quran

Awal saat kita membuka al-quran surah al-baqarah dan setelah membaca Alif Lam Mim, maka surah kedua al-baqarah ayat kedua (QS 2:2) menyatakan bahwa “Kitab itu tiada keraguan di dalamnya petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”

dari arti di atas bahwa al-quran menyatakan bahwa isinya adalah sesuatu yang pasti tanpa keraguan, banyak sekali pernyataan-pernyataan ilmiah di dalam al-quran yang faktanya baru bisa ditemukan.

Contoh fakta-fakta ilmiah yang sudah ditemukan adalah 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surah Al-Anbiya [21] ayat 33 : “Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS 21:33)


dalam surah Yasin [36] ayat 38: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” Lalu dalam Surah Az-Zariyat [51] ayat 7 disebutkan bahwa keseluruhan alam semesta dipenuhi oleh lintasan dan garis edar: “Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.”


(QS Yasin: 39)
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.”


(QS Yasin: 40)
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”


QS. Ar-Rahman (55): 5
 
Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan,
 
QS. Yunus (10): 5
 
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
 
QS. Al-An’am (6): 96
 
Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.
 
QS. Yasin (36): 38-39
 
dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.
 
Subhanallah! Sungguh pada ciptaan-Nya baik yang ada di langit dan di bumi dan apa yang ada di antara keduanya terdapat banyak sekali manfaat bagi semua manusia yang hidup dan menetap di bumi ini.
 
Dan bagaimana jika Dia tidak menciptakan Matahari dan Bulan? Sudah pasti tidak ada yang namanya waktu. Tidak ada juga kondisi malam untuk beristirahat dan siang untuk berusaha. Dan pasti juga tidak ada kehidupan di bumi ini.
 
QS. Az-Zumar (39): 5
 
Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun.
 
Sesungguhnya, Dia menciptakan semua ini dengan tujuan yang benar, agar orang-orang yang berakal mau memikirkan tanda-tanda Kebesaran Allah dan mau mengambil pelajaran (hikmah).
 
QS. Ali ‘Imran (3): 190
 
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
 
Tiada yang sia-sia atas ciptaan-Mu ini ya Allah. Maka lindungilah kami dari siksa api neraka.
 
QS. Ali ‘Imran (3): 191
 
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Hindari Riba Perintah Alquran

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 275 [QS. 2:275]

اَلَّذِیۡنَ یَاۡکُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا یَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا کَمَا یَقُوۡمُ الَّذِیۡ یَتَخَبَّطُہُ الشَّیۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ ؕ وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ

Al-ladziina ya’kuluunarribaa laa yaquumuuna ilaa kamaa yaquumul-ladzii yatakhabbathuhusy-syaithaanu minal massi dzalika biannahum qaaluuu innamaal bai’u mitslurribaa waahallallahul bai’a waharramarribaa faman jaa-ahu mau’izhatun min rabbihi faantaha falahu maa salafa waamruhu ilallahi waman ‘aada fa-uula-ika ashhaabunnaari hum fiihaa khaaliduun(a);

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. 
―QS. 2:275

Mengambil riba atau berbuat riba itu adalah larangan dari Alquran, jika alquran melarangnya pasti riba itu sesuatu yang benar-benar merugi, semoga kita terhindar dari perbuatan riba, dan jika sudah terlanjur riba maka selesaikan dan cepatlah bertobat.

Nikah Adalah Perintah Alquran

QS. An Nuur (Cahaya) – surah 24 ayat 32 [QS. 24:32]

وَ اَنۡکِحُوا الۡاَیَامٰی مِنۡکُمۡ وَ الصّٰلِحِیۡنَ مِنۡ عِبَادِکُمۡ وَ اِمَآئِکُمۡ ؕ اِنۡ یَّکُوۡنُوۡا فُقَرَآءَ یُغۡنِہِمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ

Wa-ankihuul ayaama minkum wash-shaalihiina min ‘ibaadikum wa-imaa-ikum in yakuunuu fuqaraa-a yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un ‘aliimun;

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.
Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.
Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. 
―QS. 24:32

Nikah adalah ibadah dan merupakan perintah dari alquran, nikah juga salah satu jalan menuju rezeki yang bertambah. Jadi mudahan kita mensegerakan nikah dari pada jinah, nikahilah calon istri atau suami yang mau. Calon istri atau suami yang Mau di ajak ibadah, yang mau di ajak baca alquran, memahami alquran dan menjalankan perintah alquran. Semoga kita di segerakan mendapat jodoh yang baik bagi yang belum menikah dan bagi yang sudah menikah , kita bersama istri atau suami berusaha menjaga ibadah suci ini menuju jalan yang sakinah mawadah warohmah.

Berpakaian Yang Indah Masuk Masjid Perintah Alquran

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 31 [QS. 7:31]

یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ خُذُوۡا زِیۡنَتَکُمۡ عِنۡدَ کُلِّ مَسۡجِدٍ وَّ کُلُوۡا وَ اشۡرَبُوۡا وَ لَا تُسۡرِفُوۡا ۚ اِنَّہٗ لَا یُحِبُّ الۡمُسۡرِفِیۡنَ

Yaa banii aadama khudzuu ziinatakum ‘inda kulli masjidin wakuluu waasyrabuu walaa tusrifuu innahu laa yuhibbul musrifiin(a);

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. 
―QS. 7:31

Masuk kerumah Allah harus berpakaian yang bersih, baik dan indah, ini merupakan perintah alquran, malu kita masuk kantor atau ketemu client atau bos kalo tidak berpakain rapi, apa lagi harus menghadap raja alam semesta, mestinya kita lebih rapi lebih sopan lebih takut dan lebih hati-hati. Mudahan kita pahami serta bisa mempraktekan ayat ini dalam kehidupan sehari-hari hingga akhir hayat nanti.

Hutang Wajib di Catat ini Perintah Alquran

Surat Al-Baqarah [2:282] [Tentang adab jual-beli]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

yaa ayyuhaa alladziina aamanuu idzaa tadaayantum bidaynin ilaa ajalin musamman fauktubuuhu walyaktub baynakum kaatibun bial’adli walaa ya/ba kaatibun an yaktuba kamaa ‘allamahu allaahu falyaktub walyumlili alladzii ‘alayhi alhaqqu walyattaqi allaaha rabbahu walaa yabkhas minhu syay-an fa-in kaana alladzii ‘alayhi alhaqqu safiihan aw dha’iifan aw laa yastathii’u an yumilla huwa falyumlil waliyyuhu bial’adli waistasyhiduu syahiidayni min rijaalikum fa-in lam yakuunaa rajulayni farajulun waimra-ataani mimman tardhawna mina alsysyuhadaa-i an tadhilla ihdaahumaa fatudzakkira ihdaahumaa al-ukhraa walaa ya/ba alsysyuhadaau idzaa maa du’uu walaa tas-amuu an taktubuuhushaghiiran aw kabiiran ilaa ajalihi dzaalikum aqsathu ‘inda allaahi wa-aqwamu lilsysyahaadati wa-adnaaallaa tartaabuu illaa an takuuna tijaaratan hadiratan tudiiruunahaa baynakum falaysa ‘alaykum junaahun allaa taktubuuhaa wa-asyhiduu idzaa tabaaya’tum walaa yudaarra kaatibun walaa syahiidun wa-in taf’aluu fa-innahu fusuuqun bikum waittaquu allaaha wayu’allimukumu allaahu waallaahu bikulli syay-in ‘aliimun

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Syarat-syarat yang ditetapkan oleh ayat ini untuk transaksi adalah sebagai berikut:
1. Untuk setiap agama, baik hutang maupun jual beli secara hutang, haruslah tertulis dan berdokumen.
2. Harus ada penulis selain dari kedua pihak yang bertransaksi, namun berpijak pada pengakuan orang yang berutang.
3. Orang yang berhutang dan yang memberikan pinjaman haruslah memperhatikan Tuhan dan tidak meremehkan kebenaran dan menjaga kejujuran.
4. Jika yang berhutang tidak mampu secara fisik dan akal maka bisa di walikan dengan kejujuran.
5. Selain tertulis, harus ada dua saksi lelaki yang dipercayai oleh kedua pihak yang menyaksikan proses transaksi dan siap bersaksi jika di butuhkan. Jika tidak terdapat 2 saksi laki-laki, maka 1 laki 2 perempuan bisa menjadi saksi yang kita ridhai.
6. Apablia terjadi angsuran kecil maupun besar wajib di catat angsurannya sampai waktu batas membayarnya.
7. Dalam transaksi tunai, tidak perlu tertulis dan adanya saksi sudah mencukupi.

Sedekah Adalah Perintah Alquran

QS. At Taubah (Pengampunan) – surah 9 ayat 99 [QS. 9:99]

وَ مِنَ الۡاَعۡرَابِ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ یَتَّخِذُ مَا یُنۡفِقُ قُرُبٰتٍ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ صَلَوٰتِ الرَّسُوۡلِ ؕ اَلَاۤ اِنَّہَا قُرۡبَۃٌ لَّہُمۡ ؕ سَیُدۡخِلُہُمُ اللّٰہُ فِیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ

Waminal a’raabi man yu’minu billahi wal yaumi-aakhiri wayattakhidzu maa yunfiqu qurubaatin ‘indallahi washalawaatir-rasuuli alaa innahaa qurbatun lahum sayudkhilu-humullahu fii rahmatihi innallaha ghafuurun rahiimun;

Di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul.
Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah).
Kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 
―QS. 9:99

Salah satu alasan kita harus sedekah adalah karena sedekah ini merupakan perintah langsung dari Alquran dalam surah At-Taubah (QS. 9:99), dalam surah ini memberi kita alasan atau sebab yang kuat untuk berbuat kebaikan berupa sedekah, karena dengan sedekah ini sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa rosul. Mari kita perbanyak sedekah , kapan lagi bisa di doakan oleh rosul dan mudahan semangkin dekat diri kita bersama Allah.